Jumat, 21 Januari 2011

PENERAPAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN PENDEKATAN PMR (PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK) DI MATERI PEMBAGIAN PADA SISWA KELAS 2


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
                Salah satu permasalahan yang muncul terkait dengan dunia pendidikan matematika di tingkat pendidikan dasar, menengah, dan perguruan tinggi sejak lama adalah bagaimana melakukan transformasi berbagai konsep matematika yang telah dikenal masyarakat dengan ilmu ‘mati-matian’-nya menjadi kosep – konsep yang mengasyikkan untuk dipelajari dan mudah untuk diaplikasikan. Sebagai ilmu dasar, matematika perlu mendapatkan perhatian yang cukup besar karena pada setiap aktivitas sehari – hari yang dilakukan manusia hampir bisa dipastikan tidak mungkin dapat terlepas dari kegiatan matematika. ( Ifada, 2007;1)    
                Jika dilihat hasil dari studi yang diselenggarakan oleh TIMSS (Third Internasional and Science Studies) tahun 2008, siswa Indonesia berada diperingkat 36 dari 48 negara. Salah satu penyebabnya jika kita perhatikan karena model soal yang diujikan banyak yang berhubungan dengan masalah kontekstual. Oleh karena itu, system pendidikan nasional senantiasa harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan yang terjadi baik ditingkat local, nasional, maupun global.
                Menurut Mulyasa (2007; 4), Salah satu komponen penting dari system pendidikan tersebut adalah kurikulum, karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan komponen pendidikan. Dalam waktu kurun waktu terakhir ini, Kurikulum Sekolah Dasar dan Menengah di Indonesia mengalami
perkembangan kearah positif. Kurikulum 1994 yang dianggap berorientasi pada materi ajar (subject-matter oriented) berkembang menjadi Kurikulum 2004 yang secara konseptual berorientasi pada kompetensi (competency-based). Perkembangan terbaru adalah Kurikulum 2006 yang berorientasi pada kompetensi dan otonomi sekolah (school-based) dalam pengembangan kurikulum terkenal dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dimana dalam kegiatan pembelajaran pada KTSP menurut Supinah (2008;2) adalah kegiatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, mengembangkan kreativitas, kontekstual, menantang dan menyenangkan, menyediakan pengalaman belajar yang beragam, dan belajar melalui berbuat, sehingga menuntut partisipasi yang tinggi dari siswa dalam kegiatan pembalajaran.
                Menurut observasi yang dilakukan peneliti di SDN yg diteliti, ternyata proses pembelajaran matematika masih menggunakan pembelajaran berpusat pada guru dan contoh soal yang diberikan guru kurang diaplikasikan dikehidupan sehari – hari sehingga sulit diikuti oleh siswa. Kedudukan dan fungsi guru cenderung lebih dominan sehingga keterikatan guru dalam pembelajaran itu tampak masih terlalu besar, sedangkan keaktifan siswa masih terlalu rendah kadarnya. Selain itu masih banyak siswa yang tidak menyukai matematika dengan alasan matematika membingungkan, matematika sering dianggap sulit dan membosankan. Gejala ini sekaligus menggambarkan bahwa proses pembelajaran masih terbatas pada satu atau dua metode saja atau tidak bervariasi. Sehingga keadaan ini mengakibatkan hasil belajar siswa di SDN yg diteliti belum mencapai taraf  optimal yaitu kurang dari 6,0 sebanyak 80%.
                Apabila dicermati apa yang dikemukakan diatas salah satu pendekatan pembelajaran yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan dengan produktif, siswa belajar secara aktif dan bermakna dan pembelajaran tidak berpusat pada guru yaitu menggunakan pendekatan PMR (Pendidikan Matematika Realistik) karena memulai pelajaran dengan mengajukan masalah yang riil bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya sehingga siswa segera terlibat dalam pelajaran secara bermakna. ( De Lange, 1995 dalam Hadi, 2005).
                Oleh karena itu penulis tertarik untuk menerapkan “PENERAPAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN PENDEKATAN PMR (PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK) DI MATERI PEMBAGIAN PADA SISWA KELAS 2 SDN”

1.2. MASALAH dan BATASAN MASALAH
1.2.1 RUMUSAN MASALAH

             Permasalahan yang diangkat penelitian ini adalah:
   1. Bagaimanakah aktivitas belajar siswa selama diterapkan pembelajaran matematika menggunakan model PMR (Pendidikan Matematika Realistik) di materi pembagian pada siswa kelas 2 SD”
   2.    Bagaimana hasil belajar siswa selama diterapkan pembelajaran matematika menggunakan pendekatan PMR (Pendidikan Matematika Realistik) di materi pembagian pada siswa kelas 2 SD”

1.2.2 BATASAN MASALAH
                Untuk membahas penelitian yang berjudul pembelajaran matematika menggunakan pendekatan PMR (Pendidikan Matematika Realistik) di materi pembagian pada siswa kelas 2 SDN perlu ada pembatasan masalah. Pembatasan masalah agar jelas ruang lingkupnya. Maka peneliti membatasi masalah sebagai berikut:
      1. Penerapan yang dimaksud dalam dalam melaksanakan pembelajaran PMR pada Materi Pembagian di SD
      2. PMR yang dimaksud adalah pendekatan realistik memulai pelajaran denagan mengajukan masalah yang riil bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya sehingga siswa segera terlibat dalam pelajaran secara bermakna
      3. Aktivitas yang dimaksud adalah aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran dengan menggunakan PMR (Pendidikan Matematika Realistik).
      4. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar setelah diterapkannya pendekatan PMR (Pendidikan Matematika Realistik) pada mata pelajaran matematika.
      5. Materi pokok bahasan dalam penelitian ini tentang pembagian.
      6. Yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa kelas 2 SD.

1.3. TUJUAN PENELITIAN
   Sesuai dengan masalah yang telah dirumuskan maka tujuan penelitian adalah untuk mengetahui
1.      Aktivitas siswa pada saat diterapkan pembelajaran menggunakan pendekatan PMR (Pendidikan Matematika Realistik) pada mata pelajaran matematika.
2.      Hasil belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran menggunakan pendekatan PMR (Pendidikan Matematika Realistik) pada mata pelajaran matematika.

1.4. MANFAAT PENELITIAN
             Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:
      1. Bagi Guru
      Dapat dijadikan salah satu alternatif bagi guru memilih pendekatan PMR ( Pendidikan Matematika Realistik ) untuk meningkatkan hasil belajar.
2. Bagi Sekolah
      Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan kualitas pengajaran matematika di sekolah dengan menggunakan  pendekatan PMR (Pendidikan Matematika Realistik).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pendekatan PMR
               Salah satu masalah mendasar dalam penelitian di indonesia adalah masih rendahnya prestasi siswa belajar matematika. Beberapa laporan menyebutkan faktor penyebabnya, antara lain kurangnya kualitas materi pembelajaran, metode pengajaran yang mekanistik serta buruknya sistem penilaian. Salah satu pendekatan yang menjanjikan dapat mengurangi masalah tersebut adalah realistik mathematics education (RME). Di indonesia dikenal dengan istilah Penddidikan Matematika Realistik (PMR). (Depdiknas, 2003;30)
                Gagasan PMR berawal dari RME yang telah dikembangkan di Belanda sejak awal 70-an. Pendekatan PMR menggunakan masalah kontekstual sebagai titik awal pengajaran matematika. Penggunaan masalah nyata (context problem) sangat signifikan dalam PMR.. Secara umum PMR mengkaji tentang materi apa yang akan diajarkan kepada peserta didik beserta rasionalnya, bagaimana peserta didik belajar matematika, bagaimana topik – topik matematika seharusnya diajarkan, serta bagaimana menilai kemajuan belajar peserta didik.
                Dalam PMR siswa tidak dapat dipandang sebagai botol kosong yang harus diisi dengan air. Sebaliknya siswa dipandang sebagai human being yang memiliki seperangkat pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh memalalui interaksi dengan lingkungannya, selanjutnya, siswa juga memiliki potensi untuk mengembangkan pengetahuan tersebut bagi dirinya. Di dalam pembelajaran matematika diakui bahwa siswa dapat mengembangkan pengetahuan dan pemahaman matematika apabila diberi ruang dan kesempatan untuk itu. Siswa dapat merekonstruksikan kembali temuan – temuan dalam bidang matematika melalui kegiatan dan eksplorasi berbagai permasalahan, baik permasalahan dalam kehidupan sehari – hari (daily life problems) maupun permasalahan didalam matematika sendiri. Bahkan di dalam PMR di harapkan siswa tidak sekedar aktif sendiri, tetapi ada aktivitas bersama di antara mereka. (Hadi, 2005:38-39)
               
2.2 Filsafat PMR
               Landasan filosofi PMR adalah RME. RME merupakan teori pembelajaran matematika yang dikembangkan di belanda. Teori ini berangkat dari pendapat Fruedenthal bahwa matematika merupakan aktivitas insani dan harus di kaitkan dengan realitas. Pembelajaran matematika tidak dapat dipisahkan dari sifat matematika seseorang memecahkan masalah, mencari masalah, dan mengorganisasi atau matematisasi materi pelajaran. Freudenthal berpendapat bahwa siswa tidak dapat dipandang sebagai penerima pasif matematika yang sudah jadi. Pendidikan matematika harus diarahkan pada penggunaan berbagai situasi dan kesempatan yang memungkinkan siswa menemukan kembali (reinvention) matematika berdasarkan usaha mereka sendiri.
                Dalam PMR dunia nyata digunakan sebagai titik awal untuk pengembangan ide dan konsep matematika. Menurut Blum & Niss dalam supinah, dunia nyata adalah segala sesuatu di luar matematika, seperti mata pelajaran lain selain matematika, atau kehidupan sehari – hari dan lingkungan sekitar kita. Sementara itu, De Lange mendefinisikan dunia nyata sebagai suatu dunia nyata yang kongkret, yang disampaikan kepada siswa melalui aplikasi matematika ( Hadi dalam supinah, 2008;14)
                Treffers membedakan dua macam matematika, yaitu vertikal dan harisontal (hadi dalam supinah, 2008;14). Dalam matematisasi harisontal, siswa mulai dari soal – soal kontekstual mencoba menguraikan dengan bahasa dan simbol yang dibuat sendiri. Kemudian menyelesaikan soal tersebut. Dalam proses ini, setiap orang dapat menggunakan cara mereka sendiri yang mungkin berbeda dengan orang lain. Dalam matematisasi vertikel, kita juga mulai dari soal – soal kontekstual, tetapi dalam jangka panjang kita dapat menyusun prosedur tertentu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan soal – soal sejenis secara langsung tanpa bantuan konteks.

2.3 Prinsip PMR
            Untuk dapa melaksanakan PMR kita harus tahu prinsip – prinsip yang digunakan PMR. Menurut Depdiknas ada tiga kunci prinsip PMR yaitu:
      1. Guided Re-invention atau Menemukan kembali secara seimbang.
         Peserta didik harus diberi kesempatan untuk mengalami proses yang sama sebagaimana konsep – konsep matematika untuk mengalami proses yang sama sebagaimana konsep – konsep matematika ditemukan. Pembelajaran dimulai dengan suatu masalah kontekstual atau realistic yang selanjutnya melalui aktifitas siswa diharapkan menemukan kembali sifat, definisi, teorema atau prosedur – prossedur. Masalah kontekstual dipilih yang mempunyai berbagai kemungkinan solusi.


      2. Didactical Phenomenology atau Fenomena Didaktik
         Situasi – situasi yang diberikan dalam suatu topik matematika disajikan atas dua pertimbangan, yaitu melihat kemungkinan aplikasi dalam pengajaran dan sebagai titik tolak dalam proses pematematikaan. Tujuan penyelidikan fenomena – fenomena tersebut adalah untuk menemukan situasi – situasi masalah khusus yang dapat digeneralisasikan.

      c. Self-delevoped Models atau pengembangan model sendiri.
         Kegiatan ini berperan sebagai jembatan antara pengetahuan informal dan matematika formal. Model dibuat siswa sendiri dalam memecahkan masalah. Model pada awalnya adalah suatu model dari situasi yang dikenal  dengan siswa. Dengan suatu proses generalisasi dan formalisasi, model tersebut akhirnya menjadi suatu model sesuai penalaran matematika.

2.4 Karakteristrik PMR
            Menurut Depdiknas dalam pembelajaran menggunakan pendekatan PMR, terdapat lima karakteristik antara lain:
      1. Menggunakan Masalah kontekstual
         Konteks adalah lingkungan keseharian siswa yang nyata. Dalam matematika tidak selalu diartikan “konkret”, dapat juga sesuatu yang telah dipahami siswa atau dapat dibayangkan siswa.


      2. Menggunakan Model
         Model diarahkan pada model konkret meningkatkan ke arah abstrak atau model dari situasi nyata atau model untuk arah abstrak.
      3. Konstruksi siswa sendiri
          Kontribusi yang besar pada proses belajar mengajar diharapkan dari kontsruksi peserta didik sendiri yang mengarahkan mereka dari metode informal peserta didik sendiri yang mengarahkan mereka sendiri dari metode informal mereka kea rah yang lebih formal atau baku.
      4. Interaktivitas
Dalam pemebelajaran konstruksi diperhatikan interaksi, negosisasi secara eksplisit, intervensi, kooperasi, dan evaluasi sesama peserta didik, peserta didik-guru, dan guru-lingkunganya.
      5. Terintegrasi dengan topic pembelajaran lainnya.
         Dalam pembelajaran menggunakan pendekatan holistik, artinya bahwa topic – topic belajar dapat dikaitkan dan diintegrasikan sehingga memunculkan pemahaman suatu konsep atau operasi secara terpadu. Hal ini memungkinkan efisiensi dalam mengajarkan bebearapa topik pelajaran.






2.5  Kelebihan dan Kekurangan dari Pembelajaran Matematika Realistik
             Menurut Hadi dalam Widdiharto (2004:23), kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran matematika realistik adalah:
             1. Kelebihan Pembelajaran Matematika Realistik.
·        Siswa termotivasi karena materi yang disajikan terkait dekat dengan kehidupan sehari – hari.
·        Materi yang disajikan lebih lama membekas dipikiran sesuai karena siswa dilibatkan aktif dalam pembelajaran.
            
             2. Kekurangan Pembelajaran Matematika Realistik
·        Tidak semua topik atau pokok bahasan dapat disajikan dengan kontekstual atau kadang mengalami kesulitan dalam mengaitkannya.
·        Membutuhkan waktu yang agak lama.

2.6 Langkah Pembelajaran PMR
            Menurut Supinah (2008;34), secara singkat urutan proses pembelajaran dengan  pendekatan kontekstual atau realistik dapat dituliskan sebagai berikut:
1.      Kegiatan awal atau pembukaan
a.  Penyampaian tujuan pembelajaran.
b. Penyampaian pokok-pokok materi atau relevansi.
c.  Pemberian motivasi pelajaran dan melakukan apersepsi.
d. Penjelasan oleh guru tentang pembagian kelompok dan cara belajar.
e.  Guru memfasilitasi, antara lain dengan menyiapkan alat peraga atau media yang lain seperti lembar permasalahan, lembar kerja ataupun lembar tugas.
2.      Kegiatan Inti
a.  Guru memulai pembelajaran dengan memberikan siswa masalah kontekstual atau realistik.
b. Siswa diberi kesempatan menyelesaikan masalah dengan memilih atau membangun strategi sendiri (disampaikan batasan waktu).
c.  Sesudah waktu habis, beberapa siswa menjelaskan caranya menyelesaikan masalah (informal). Jangan mengintervensi, biarkan siswa selesai mengutarakan idenya dan siswa lain menanggapi ide yang diutarakan.
d. Diskusi dikelas dipimpin oleh guru.
             e. Guru secara perlahan membawa siswa ke matematika formal.
      3. Kegiatan akhir atau penutup
             a. Penarikan kesimpulan dari apa-apa yang telah dipelajari dalam pembelajaran sesuai yang akan dicapai.
             b.   Pemberian tugas dan latihan.

2.7 Pembelajaran Matematika di SD
            Depdiknas melakukan pergesaran paradigma dalam proses pembelajaran, yaitu orientasi pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (Supinah,2008;2).
            Pembelajaran adalah proses pengaturan lingkungan yang diarahkan untuk mengubah prilaku siswa kearah yang positif dan lebih baik sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimilki siswa. Jadi pembelajaran merupakan kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa secara aktif, sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilator, yang banyak berperan secara penuh adalah siswa (Sudjana, 2005;78).
            Pembelajaran matematika di SD merupakan salah satu kajian yang selalu menarik untuk ditemukan karena adanya perbedaan karakteristik khususnya antara hakikat anak dengan kakikat matematika. Anak usia SD sedang mengalami perkembangan dalam tingkat berpikirnya. Matematika adalah ilmu deduktif, aksiomatik, formal, hirarkis, abstrak, bahasa spanyol yang padat arti dan semacamnya sehingga para ahli matematika dapat mengembangkan sebuah system matematika.. Dengan matematika dapat membentuk pola pikir orang yang mempelajarinya menjadi pola pikir matematis yang sistematis, logis, kritis, dengan penuh kecermatan. (Karso, 2006: 1.4)
             Maka matematika bagi siswa SD berguna untuk kepentingan hidup dalam lingkungannya, untuk mengembangkan pola pikirnya untuk mempelajari ilmu – ilmu yang kemudian. Kegunaan atau manfaat matematika bagi para siswa SD adalah sesuatu yang jelas yang tidak perlu dipersoalkan lagi, lebih – lebih pada era pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini. (Karso, 2006:1.5)

2.8 Matematika
        Matematika berasal dari bahasa yunani, mathein atau manthenein yang berarti mempelajari. Kata ini mempunyai hubungan yang erat dengan kata sanskerta, medha atau widya yang memiliki arti kepandaian, ketahuan atau intelegensia. Dalam bahasa belanda, matematika disebut dengan kata wiskunde yang berarti ilmu tentang belajar.
        Matematika di artikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik. Selain itu, matematika merupakan ilmu pengetahuan tentang penelaran yang logik dan masalah yang berhubungan dengan bilangan. Bahkan matematika sebagai ilmu bantu dalam menginterpresetasikan berbagai ide dan kesimpulan (Sujono dalam Fathani, 2009;19).
        Dalam pandangan formalis, matematika adalah pemeriksaan aksioma yang menegaskan struktur menggunakan logika simbolik dan notasi matematika. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , matematika didefinisikan sebagai ilmu tentang bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan. Matematika membahas fakta – fakta dan hubungan – hubungannya, serta membahas problem ruang dan waktu.
        Berdasarkan pendapat diatas disimpulkan bahwa matematika adalah sebuah ilmu pasti yang selama ini menjadi induk dari segala ilmu pengetahuan di dunia ini.

2.9 Materi Matematika SD
        Salah satu materi yang diajarkan di SD adalah pembagian. sebelum mempelajari pembagian siswa harus memahami terlebih dahulu pengurangan dan perkalian. Pembagian merupakan konsep matematika yang utama yang harus dikuasai dengan baik. Konsep pembagian tersebut sangat bermanfaat dalam mempelajari materi matematika selanjutnya. Kompetensi yang diharapkan  diperoleh siswa setelah mempelajari materi pembagian ini adalah siswa memahami konsep pembagian dan mampu menggunakannya untuk memecahkan masalah – masalah terkait.



2.10 Aktivitas Belajar
Pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktifitas sendiri. Anak (siswa) belajar sambil bekerja. Dengan bekerja, merekam, memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan aspek tingkah laku lainnya, serta mengembangkan ketrampilanyang bermakna untuk hidup masyarakat (Hamalik, 2003: 171).
Paul D. Dierech (dalam Hamalik, 2003: 172) membagi kegiatan belajar dalam 8 kelompok, yaitu :
1.      Kegiatan – kegiatan visual
 Membaca, melihat gambar, mengamati eksperimen, demontrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja.
2.      Kegiatan – kegiatan lisan (oral)
Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi.
3.      Kegiatan – kegiatan mendengarkan
Mendengar penyajian bahan, mendengar percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio.
4.      Kegiatan – kegiatan menulis
Menulis laporan, menulis cerita, memeiksa karangan, bahan – bahan kopi, membuat rangkuman , mengerjakan tes, dan mengisi angket.
5.      Kegiatan – kegiatan menggambar
Menggambar, membuat grafik, chart, diagram peta, dan pola.
6.      Kegiatan – kegiatan metrik
Melakukan percobaan memilih alat – alat, melakukan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari, dan berkebun.
7.      Kegiatan – kegiatan  mental
Merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, faktor – faktor, melihat hubungan – hubungan, dan membuat keputusan.
8.      Kegiatan – kegiatan emosional
 Minat, membedakan, berani, tenang, dan lain –lain.
Dari kedelapan kegiatan diatas yang akan diambil oleh peneliti adalah kegiatan visual, kegiatan lisan, dan kegiatan mental Prinsip aktifitas yang diuraikan di atas didasarkan pada pandangan psikologis bahwa, segala pengetahuan harus diperoleh berdasarkan pengamatan (mendengar, melihat, dan sebagainya) sendiri dan pengalaman sendiri. Jiwa itu dinamis, memiliki energy sendiri, dan dan dapat menjadi aktif sebab didorong oleh kebutuhan – kebutuhan.
Guru hanyalah merangsang keaktifan dengan jalan menyajikan bahan pelajaran, sedangkan yang mengelolah dan mencerna adalahpeserta didik itu sendiri sesuai kemampuan, bakat, dan latar belakang masing – masing.





2.11 Belajar
            Dalam proses pengajaran, unsur proses belajar memegang peranan yang vital. Menurut (Hamalik, 2001: 27) Mengajar adalah proses membimbing kegiatan belajar murid. Oleh karena itu adalah penting sekali bagi setiap guru memahami sebaik – baiknya tentang proses belajar murid , agar ia dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi murid – murid.
            Menurut (Hamalik, 2001: 27) “belajar adalah suatu proses, suatu kegitan dan bukan suatu hasil atau tujuan”. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu., yakni mengalami.

2.12 Hasil Belajar
                Menurut Nana Sudjana (1989;22) Hasil belajar adalah kemampuan - kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu.
                Hasil belajar diperoleh melalui tes, tes terhadap tingkat pencapaian hasil belajar paserta didik harus dilakukan agar kualitas proses pembelajaran sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tes memerlukan data untuk diolah menjadi informasi dan selanjutnya digunakan untuk membuat kebijakan hasil tes. Berdasarkan hasil tes kita dapat mengetahui hasil belajar siswa.

bab 3, 4, dan 5 silahkan disesuaikan sendiri



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar